Kendari, Sultrust.com — Kritik keras datang dari Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulawesi Tenggara, LM Rajiun Tumada, menyusul viralnya video kunjungan Roy Suryo dan dr. Tifa ke makam keluarga Presiden Joko Widodo di Solo.
Dalam video yang diunggah di kanal YouTube Refly Harun itu, keduanya menyebut menemukan kejanggalan terkait identitas mendiang Sudjiatmi Notomihardjo, ibunda Jokowi.
Menanggapi itu, LM Rajiun Tumada menyebut tindakan tersebut bukan hanya tidak beretika, melainkan juga mencederai nilai kemanusiaan dan demokrasi. Ia menilai, apa yang dilakukan Roy Suryo dan rekan-rekannya sudah melewati batas kewajaran dalam kehidupan berdemokrasi.
“Tentu kami mengecam keras apa yang disampaikan oleh kelompok Roy Suryo CS dan kawan-kawan yang telah beredar luas di media sosial. Olehnya itu saya kira, hal yang dilakukan dalam rangka kunjungan mereka ke makam almarhumah ibunda bapak presiden ke-7 Republik Indonesia ini sangat tidak manusiawi,” ujar Rajiun dalam sebuah video yang diterima media ini, Jumat (10/10/2025).
Menurutnya, perbedaan pandangan politik semestinya tidak menjadi alasan untuk menyerang ranah pribadi, apalagi menyentuh urusan keluarga seseorang. Rajiun menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kegagalan memahami esensi demokrasi itu sendiri.
“Kita berbicara tentang demokrasi, kalau kita berbeda pendapat, berbeda pikiran, berbeda warna atau berbeda pandangan politik, saya kira itu hal yang biasa dalam dunia demokrasi. Tapi ketika hal-hal di luar keterbatasan ini atau di luar dari gerakan-gerakan yang kemudian tidak demokratis, saya kira juga ini menjadi catatan khusus yang dipertanyakan kepada kelompok-kelompok itu,” katanya
Rajiun bahkan menyebut kelompok tersebut “sudah linglung” karena menempuh cara yang menurutnya tak bermoral dan tidak beradab. Ia menegaskan, langkah yang dilakukan Roy Suryo dan dr. Tifa dengan mendatangi makam keluarga Presiden Jokowi merupakan tindakan tercela yang patut ditindak tegas.
“Kelompok ini saya anggap sudah linglung. Olehnya itu, saya selaku Ketua DPW Provinsi Sulawesi Tenggara mengecam keras gerakan dan tindakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok bagi mereka yang tidak beradab yang telah melakukan gerakan untuk mencari kuburan almarhumah ibunda bapak presiden ketujuh Republik Indonesia yaitu Bapak Joko Widodo, yang tidak lain adalah nenek dari ketua umum kami Kaesang Pangarep,” tegasnya.
Lanjut, Rajiun juga mendesak aparat penegak hukum untuk turun tangan dan menindak para pihak yang terlibat. Ia menilai tindakan tersebut sudah masuk kategori pelanggaran hukum dan tidak bisa dibiarkan.
“Olehnya itu saya minta dengan tegas kepada pihak aparat untuk segera menindaklanjuti ini, karena gerakan-gerakan yang tidak bermoral ini harus ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum yang ada di republik ini,” katanya.
Dalam pernyataannya, Rajiun tak segan melontarkan kritik keras kepada Roy Suryo Cs yang dianggapnya telah kehilangan nalar.
“Kita memang harus memahami bahwa kejadian ini adalah kejadian di luar nalar manusia, ini sudah sinting orangnya, ini saya anggap sudah keterlaluan. Olehnya itu aparat penegak hukum saya kira sudah memahami pasal apa yang harus diberikan kepada mereka,” ujarnya lagi.
Lebih jauh, Sebagai bentuk sikap politik PSI Sultra, Rajiun mengajak seluruh kader PSI di kabupaten dan kota untuk ikut menyuarakan kecaman terhadap tindakan tersebut.
“Saya juga menghimbau kepada seluruh teman-teman DPD PSI kabupaten kota Sulawesi Tenggara, mari kita mengecam bersama-sama, memberikan aspirasi kepada seluruh aparat penegak hukum di wilayah masing-masing untuk menindaklanjuti dengan tegas dan menangkap orang-orang ini,” tutupnya.
Video Roy Suryo dan dr. Tifa yang memicu kecaman itu sebelumnya menampilkan keduanya mengunjungi makam keluarga Presiden Jokowi di Solo. Dalam tayangan yang diunggah di akun YouTube Refly Harun, dr. Tifa menyebut adanya informasi dari warga lokal yang mengklaim bahwa mendiang Sudjiatmi Notomihardjo bukan ibu kandung Presiden Jokowi, pernyataan yang kemudian menuai kecaman luas. (*)



















