Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Nur Alam Kritik Tajam Kapasitas Dirut Bank Sultra, Dinilai Tak Kompeten dan Rusak Kaderisasi Internal

16
×

Nur Alam Kritik Tajam Kapasitas Dirut Bank Sultra, Dinilai Tak Kompeten dan Rusak Kaderisasi Internal

Share this article
Mantan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) dua periode, Dr. H. Nur Alam, S.E., M.Si. // (dok : istimewa)
Example 468x60

Kendari, Sultrust.com – Mantan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) dua periode, Dr. H. Nur Alam, S.E., M.Si., mengeluarkan pernyataan kritis terkait kepemimpinan di tubuh PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara atau Bank Sultra.

Ia secara terbuka menyoroti kompetensi Direktur Utama Bank Sultra saat ini, Andri Permana Diputra Abubakar, yang dinilai tidak memiliki kualifikasi mumpuni untuk menakhodai institusi perbankan sebesar itu.

Example 300x600

Nur Alam menegaskan bahwa jabatan Direktur Utama pada bank daerah bukan sekadar posisi administratif, melainkan posisi strategis yang menuntut rekam jejak, pengalaman, dan pemahaman mendalam terhadap struktur perbankan yang kompleks.

Menurut Nur Alam, profil kepemimpinan Andri Permana Diputra Abubakar dianggap jauh dari standar yang dibutuhkan untuk memimpin Bank Sultra. Ia menekankan bahwa aspek jenjang jabatan dan pengalaman lapangan menjadi indikator utama yang tidak terpenuhi dalam kepemimpinan saat ini.

“Direktur Utama Bank Sultra itu, yang bersangkutan itu tidak kompeten dan tidak memenuhi kompetensi. Jadi selain tidak kompeten, juga tidak memenuhi kompetensi, baik dari sisi jenjang jabatan maupun pengalaman untuk memimpin lembaga yang setingkat,” ujar Nur Alam dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/5/2026).

Lanjut, Ia menambahkan bahwa skala tanggung jawab seorang Dirut Bank Sultra secara fungsional setara dengan pimpinan bank-bank pelat merah nasional lainnya, mengingat luasnya cakupan operasional dan jaringan kantor yang dikelola.

“Bank Sultra walaupun berdomisili di daerah, itu sama dengan Direktur Utama Bank BNI, Bank Mandiri, Bank BRI, yang memiliki cabang-cabang utama kemudian cabang pembantu dan tersebar di berbagai tempat,” jelasnya.

Kritik Nur Alam tidak berhenti pada persoalan personalitas kepemimpinan, namun juga merambah pada dampak teknis dan manajerial. Ia mengkhawatirkan lemahnya fungsi intermediasi perbankan yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi daerah jika dipimpin oleh figur yang minim prestasi di industri jasa keuangan.

Lebih jauh, Nur Alam menyoroti dampak psikologis dan struktural terhadap sumber daya manusia di internal Bank Sultra. Penunjukan pimpinan yang dianggap tidak kompeten dinilai mencederai sistem kaderisasi yang telah dibangun lama.

“Intermediasinya pasti lemah. Kemudian sekaligus merusak tatanan kaderisasi internal kader-kader Bank Sultra itu sendiri,” tegas Nur Alam.

Nur Alam menyayangkan kebijakan yang mengabaikan potensi kader internal Bank Sultra. Menurutnya, bank kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara tersebut memiliki banyak figur yang telah berkarir dari bawah dan memiliki pemahaman komprehensif terhadap ekosistem perbankan daerah.

“Padahal kader-kader internal Bank Sultra itu sudah cukup banyak yang memiliki kemampuan dan pengalaman,” lanjutnya.

Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin agresif dengan masuknya bank swasta nasional ke daerah, Nur Alam menilai Bank Sultra membutuhkan nakhoda yang memiliki bukti nyata keberhasilan di masa lalu, sesuatu yang menurutnya tidak terlihat pada kepemimpinan saat ini.

“Apalagi kita tidak pernah melihat prestasinya. Jadi enggak ada prestasi,” pungkasnya.

Pernyataan menohok dari tokoh pembangunan Sultra ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi para pemegang saham (PSU) dalam menjaga marwah, daya saing, serta profesionalisme Bank Sultra sebagai tulang punggung ekonomi di Bumi Anoa. (*)

Example 300250
Example 120x600