Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
headlineSorot

Pencemaran Lingkungan Tertutupi Keindahan Beranda Kota, Pemkot Kendari Terkesan Sibuk Kejar Adipura

439
×

Pencemaran Lingkungan Tertutupi Keindahan Beranda Kota, Pemkot Kendari Terkesan Sibuk Kejar Adipura

Share this article
Sumur yang menampung air lindi atau limbah sampah di TPAS Puwatu. Kini cemari air kali Wuawua. Foto : Salman/sultrust.id.
Example 468x60

SULTRUST.ID – Ditengah kesibukan Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari melakukan pembenahan di bidang lingkungan untuk meraih penghargaan Adipura yang kesekian kalinya, warga RW 06 Kelurahan Wuawua Kecamatan Wua-wua justru masih bergelut dengan bauh busuk air kali, akibat pencemaran yang bersumber dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Puwatu.

Kondisi ini membuat miris. Apalagi, TPAS Puwatu sempat menjadi tempat pembuangan sampah terbaik se-Asia. Bahkan, banyak kepala daerah di Indonesia hingga luar negeri yang datang belajar.

Example 300x600

Pencemaran lingkungan ini sudah terjadi selama 10 tahun terakhir. Anehnya, Pemkot Kendari justru terkesan tutup mata. Seakan tak ada keinginan untuk mengantisipasi pencemaran tersebut.

Saleh, warga RW 06 Kelurahan Wuawua mengatakan, sebelum adanya sumur lindi itu, air kali tak pernah tercemar, sehingga selalu digunakan untuk berbagai macam keperluan.

“Waktu belum ada yang namanya itu sumur lindi, air kali yang mengalir jernih kok. Biasa digunakan mencuci pakaian, piring, motor hingga mandi,” kata ayah empat anak itu, Rabu (8/2/2023).

Di tempat yang sama, Rulid yang juga warga RW 06 Kelurahan Wuawua membenarkan perihal sumber limbah yang cemari air kali tersebut berasal dari TPAS Puwatu.

“Iya, memang benar itu (pencemaran). Lihat saja kak, warna air kali kami ini berwarna hitam dan bau,” akui Rulid.

Kondisi air kali yang hitam dan berbauh akibat tercemari lindi TPAS Puwatu. Foto : Salman/sultrust.id.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Persampahan dan LB3 Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kendari, Adi Jaya Purnama mengatakan, pihaknya sudah melakukan beberapa upaya untuk meminimalisir pencemaran yang disebabkan air lindi tersebut.

Dia menyebutkan, salah satu upaya yang dilakukkan DLHK yakni dengan cara memfiltrasi melalui beberapa treatment sederhana seperti menggunakan arang, ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya.

“Kami sudah menggunakan beberapa treatment sederhana untuk meminimalisir ini,” ujarnya saat ditemui awak media di Lantor DLHK Kota Kendari.

Ia menambahkan, jika menggunakan treatment yang sudah canggih, seperti filtrasi yang sudah digunakan di beberapa rumah sakit itu membutuhkan biaya yang cukup besar.

Sementara itu, beberapa kali ditanya awak media tentang anggaran, Adi Jaya Putra enggan memberikan jawaban secara detail, alumni IPDN ini memilih untuk mengalihkan ke hal-hal lain.

Untuk diketahui, lindi adalah suatu cairan yang dihasilkan dari pemaparan air hujan di timbunan sampah.

Cairan ini sangat berbahaya dan beracun karena mengandung konsentrasi senyawa organik maupun senyawa anorganik tinggi, yang terbentuk dalam landfill (sistem pengelolaan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah) akibat adanya air hujan yang masuk ke dalamnya.

Selain itu, cairan tersebut juga dapat mengandung unsur logam, yaitu seng (Zn) dan raksa (Hg).

 

 

 


Laporan : Salman
Editor : Run

Example 300250
Example 120x600