Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Economy

Memperkuat Jati Diri Ekonomi Sultra, Peran Sentral Bank Indonesia Dalam Merajut Ekosistem Halal Inklusif

81
×

Memperkuat Jati Diri Ekonomi Sultra, Peran Sentral Bank Indonesia Dalam Merajut Ekosistem Halal Inklusif

Share this article
Kantor BI perwakilan Sulawesi Tenggara. // Dok : ist
Example 468x60

Kendari, Sultrust.com – Bukan rahasia lagi, Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki bekal alam dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk menjadi episentrum ekonomi syariah di Kawasan Timur Indonesia.

Namun, potensi hanyalah angan tanpa akselerasi yang terarah. Di sinilah peran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara (BI Sultra) menjadi sangat sentral dan strategis. BI Sultra tidak hanya menjalankan fungsi moneter, tetapi telah bertransformasi menjadi arsitek utama yang merajut simpul-simpul ekosistem halal di daerah.

Example 300x600

Ekonomi syariah seringkali dianggap sebagai domain eksklusif perbankan. BI Sultra membuktikan bahwa konsep ini jauh lebih luas, mencakup rantai nilai dari hulu ke hilir. Aksi BI Sultra berfokus pada tiga pilar yang saling menguatkan: pembiayaan, kualitas halal, dan pariwisata.

Poin krusial yang diangkat oleh Makmur T. Hasudungan Panjaitan adalah tentang kerja-kerja lapangan yang semakin tampak. Ini menunjukkan pergeseran paradigma. Kebijakan BI Sultra kini berorientasi pada dampak langsung ke dapur usaha kecil dan etalase wisata.

1. Mendorong Inklusi melalui Pembiayaan Adil
Aspek pembiayaan menjadi tulang punggung. Fasilitasi business matching pada acara Sultra Maimo 2025 yang sukses menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp7,2 miliar adalah angka yang berbicara tentang keberpihakan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan oksigen bagi kelangsungan usaha UMKM yang sering kesulitan mengakses modal kerja konvensional.

Lebih dari itu, kesiapan BI Sultra dalam menyinkronkan sisi sosial dan komersial terlihat pada penyelenggaraan Akad Massal KUR. Ini adalah langkah politik ekonomi yang menegaskan bahwa keadilan dalam bertransaksi, yang merupakan prinsip dasar ekonomi syariah, harus diwujudkan dalam skala massal. Ini adalah upaya nyata mendorong pasar yang lebih dalam dan inklusif.

2. Menjaga Mutu dan Daya Saing Global
Di era pasar global, label halal adalah jaminan mutu. BI Sultra memahami bahwa produk lokal tidak hanya harus enak dilihat tetapi juga siap uji. Melalui Booth Camp IKRA dan fasilitasi sertifikasi halal untuk RPH/U, Juleha, dan UMKM, BI Sultra secara efektif memperbaiki hulu-hilir rantai nilai.

Tindakan ini vital. Ketika produk wastra dan makan minum olahan binaan BI Sultra ikut berkompetisi di FESyar KTI, mereka bukan hanya mempromosikan Sultra, tetapi secara tidak langsung menguji daya saing ekosistem halal daerah di panggung yang lebih besar.

3. Membangun Jati Diri Pariwisata Halal
Sultra punya keindahan bahari yang tak tertandingi, khususnya Wakatobi. Kontribusi BI Sultra di sini adalah membangun quality tourism melalui penguatan identitas Wisata Halal.

Melalui Kick Off Zona KHAS (Kuliner Halal, Aman, dan Sehat) yang diselaraskan dengan Wakatobi Wave 2025, BI Sultra memastikan bahwa pengalaman wisatawan ditingkatkan dengan fasilitas yang memenuhi standar Islami yang jelas. Langkah ini mengubah potensi menjadi nilai jual yang terstandar, menjadikan Sultra kompetitif di pasar wisatawan muslim global.

Tantangan dan Urgensi Keberlanjutan
Dukungan BI Sultra terhadap ISEF ke-12 dan rekor MURI untuk literasi keuangan syariah menunjukkan adanya upaya besar dalam pembentukan kesadaran publik (literasi). Kesadaran adalah aset paling berharga.

Dengan mengedukasi mahasiswa, BI Sultra menanamkan pemahaman bahwa ekonomi syariah adalah cara bertransaksi yang adil, bersih, dan menumbuhkan usaha secara berkelanjutan, bukan sekadar istilah.

Namun, keberhasilan ini harus dijaga. Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga ketersinambungan hulu hilir dalam satu peta ekonomi syariah. Program BI Sultra harus terus tersinkronisasi dengan baik, memastikan agar sinergi yang sudah terjalin antara pemerintah, lembaga sertifikasi, perbankan, dan komunitas tidak terputus setelah event-event besar berakhir.

Sebagai kesimpulan, kontribusi BI Sultra bukan hanya menumbuhkan ekonomi syariah sebagai alternatif, melainkan menjadikannya sebagai arus utama yang menyeimbangkan antara nilai (spiritual/sosial) dan nilai tambah (ekonomi).

Dengan langkah strategis ini, Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki bekal untuk menjadi episentrum ekonomi syariah di Kawasan Timur Indonesia; lebih rapi, lebih adil, dan lebih percaya diri menyambut peluang baru.

 

Co-Author/Referensi Utama: Makmur T. Hasudungan Panjaitan

Example 300250
Example 120x600