Kendari, Sultrust.com – Program SERAMBI 2026 tidak hanya sekadar tentang penukaran uang tunai. Di Sulawesi Tenggara (Sultra), Bank Indonesia melakukan langkah inovatif dengan menggabungkan edukasi literasi keuangan dan digitalisasi ekosistem religi melalui kolaborasi lintas instansi yang cukup masif.
Salah satu terobosan utamanya adalah peluncuran Buku Cerita Anak Dwibahasa bertema Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Buku ini merupakan hasil sinergi antara BI Sultra dan Balai Bahasa Provinsi Sultra yang ditujukan khusus untuk anak usia dini dan siswa sekolah dasar di Kota Kendari.
“Kami ingin menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap mata uang nasional sejak dini. Dengan format dwibahasa, buku ini juga berfungsi melestarikan bahasa daerah agar tidak punah di tengah arus modernisasi,” ujar pihak BI dalam seremoni penyerahan buku kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari.
Edukasi ini dinilai krusial karena Rupiah bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kedaulatan negara. Melalui buku cerita tersebut, anak-anak diajarkan cara merawat uang dengan prinsip 5J: Jangan dilipat, dicoret, diremas, distapler, dan jangan dibasahi agar usia edar uang lebih lama.
Bergerak ke sisi religius, BI Sultra juga meluncurkan program BAROQAH (Berbagi Amal Ramadan Oleh QRIS Agar Hidup Berkah). Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi QRIS dalam kegiatan sosial keagamaan dan penyaluran dana amal selama bulan suci Ramadan.
Sebagai langkah konkret, BI melakukan penandatanganan komitmen bersama Kemenag Kendari untuk mendistribusikan Kotak Amal CBP Rupiah kepada 50 masjid se-Kota Kendari. Kotak amal ini nantinya akan dilengkapi dengan kode QRIS untuk memfasilitasi jamaah yang ingin berdonasi secara non-tunai.
Langkah digitalisasi masjid ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem keuangan yang lebih transparan dan akuntabel di rumah ibadah. Selain itu, penggunaan QRIS juga meminimalisir risiko peredaran uang palsu dan kerusakan fisik uang kertas yang sering terjadi pada kotak amal konvensional.
Melalui integrasi antara literasi anak, pelestarian bahasa, dan digitalisasi tempat ibadah, SERAMBI 2026 diharapkan meninggalkan dampak jangka panjang yang lebih bermakna bagi masyarakat Sulawesi Tenggara melampaui sekadar ketersediaan uang tunai di saku mereka. (*)



















