Kendari, Sultrust.com – Sektor jasa keuangan di Sulawesi Tenggara (Sultra) menutup tahun 2025 dengan rapor hijau. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra mencatat pertumbuhan solid pada aset perbankan yang kini menyentuh angka Rp63,25 triliun, dibarengi dengan lonjakan signifikan jumlah investor pasar modal sebesar 42,67 persen secara tahunan (year-on-year).
Berdasarkan laporan kinerja tahunan yang dirilis OJK Sultra pada Rabu (4/3/2026), stabilitas ini menjadi bukti kuatnya daya tahan ekonomi daerah di tengah dinamika pasar global.
Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, mengungkapkan bahwa performa positif pada Triwulan IV 2025 didukung oleh kepercayaan investor lokal yang kian menebal serta program edukasi keuangan yang masif.
“Sepanjang 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp33,11 triliun atau tumbuh 2,31 persen secara tahunan. Komposisinya didominasi tabungan sebesar 68,4 persen, deposito 15,9 persen, dan giro 15,7 persen,” ujar Bismi.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit juga menunjukkan tren positif dengan total pembiayaan mencapai Rp42,72 triliun (tumbuh 5,20 persen). Kredit konsumsi masih menjadi motor utama penggerak dengan porsi 57 persen, sementara sektor produktif melalui modal kerja dan investasi masing-masing berkontribusi sebesar 26 persen dan 17 persen.
Meskipun penyaluran kredit meningkat, kualitas kredit tetap terjaga di level yang sehat dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan) hanya sebesar 1,24 persen.
Geliat investasi di Sultra juga terlihat di pasar modal. Hingga akhir tahun, tercatat sebanyak 157.693 entitas telah memiliki Single Investor Identification (SID). Menariknya, instrumen reksa dana menjadi pilihan paling populer bagi masyarakat Bumi Bahterahama.
Pilihan Instrumen Investasi Masyarakat Sultra,
Instrumen Reksa Dana, dengan porsi 70,1%, Instrumen Saham dengan porsi 28,1%, Instrumen Surat Berharga Negara (SBN), dengan porsi 1,8%.
Aktivitas transaksi saham bulanan pun terpantau cukup bergairah, dengan nilai mencapai Rp486,01 miliar per November 2025. Di sisi lain, Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) juga mencatatkan piutang pembiayaan sebesar Rp6,79 triliun.
Pertumbuhan angka-angka tersebut tidak lepas dari upaya literasi yang gencar dilakukan. OJK Sultra tercatat menggelar 360 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 153 ribu peserta, termasuk kelompok UMKM dan penyandang disabilitas.
Selain itu, akses keuangan inklusif juga terus didorong melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) lewat beberapa program unggulan. Program KEJAR (Satu Rekening Satu Pelajar), menghimpun tabungan sebesar Rp5,09 miliar. Program KPMR (Kredit Melawan Rentenir), menyalurkan pembiayaan sebesar Rp7,23 miliar untuk melindungi warga dari jeratan bunga tidak wajar.
Dalam hal perlindungan konsumen, OJK telah merespons 1.404 layanan pengaduan sepanjang 2025, yang mayoritas berkaitan dengan sektor perbankan, perusahaan pembiayaan, dan layanan SLIK. (*)



















