Kendari, Sultrust.com – Kekalahan sejumlah pasangan calon dukungan Partai NasDem di sejumlah daerah pada kontestasi Pilkada 2024 di Sulawesi Tenggara bukan menjadi bahan evaluasi, tapi terasa justru terjadi kisruh internal.
Parahnya lagi, pasangan calon Tina Nur Alam – Ihsan Taufik Ridwan dukungan Partai NasDem di Pilgub sedang berjuang ke Mahkamah Konstitusi justru oleh Ketua DPW NasDem Sultra, Ali Mazi melalui Sekretarisnya, Tahir Lakimi melarang ajukan gugatan.
Polemik ini memunculkan pertanyaan besar mengapa Ali Mazi tidak melakukan instruksi pendampingan hukum apalagi Tina Nur Alam merupakan kader NasDem yang punya tetes keringat besarkan NasDem Sultra hingga 2 periode lolos ke DPR RI.
“Anehnya saat kadernya (Tina Nur Alam) berjuang menempuh hak hukumnya di MK, tapi Ali Mazi beri ucapan selamat bahkan dikabarkan bertemu dengan Andi Sumangeruka di kediamannya di Jakarta. Ada kompromi apa dibalik pertemuan itu. Ini sangat tidak etis,” sorot Sumardin mantan Sekretaris NasDem Kolaka kepada media ini, Kamis,12/12/2024.
Tak heran pertemuan Ali Mazi dan Andi Sumangeruka (ASR) sebagai gubernur terpilih Sultra, sontak memicu spekulasi publik yang menganggap sebagai upaya mencari perlindungan atas isu yang menerpanya terkait kasus dugaan korupsi pengadaan kapal pesiar Tahun 2020 yang ditaksir negara mengalami kerugian sekitar 8,9 miliar di masa Ali Mazi menjabat Gubernur Sultra.
“Apakah pertemuan itu dimaksudkan sebagai tukar menukar kepentingan pribadi. Seharusnya kader NasDem malu karena ada kadernya tersandra dugaan kasus kapal pesiar, bukan justru melarang kadernya saat sedang berjuang menuntut hak hukumnya di MK. Ini sangat disayangkan terjadi,” terang Sumardin.
Begitu halnya Ketua DPD NasDem Konawe, Muttaqin Siddiq yang tanpa memahami konteks lalu ikut memberikan statemen di media massa yang terkesan memperkuat pernyataan sekretaris DPW NasDem Sultra, Tahir Lakimi melarang pasangan TNA -IHSAN menggugat ke MK.
“Muttaqin Siddiq itu bisa dibilang kader karbitan. Ia bergabung di NasDem saat jelang Pilcaleg 2024. Itupun dikabarkan saat itu masih tercatat sebagai pengurus Partai Kebangkitan Nusantara. Anehnya kini tiba – tiba muncul menasbihkan diri seolah – olah paling berkeringat di NasDem. Saya anggap ini seperti pentas comedi, banyak ngawurnya,” tutur Sumardin.
Dikatakan Sumardin, seharusnya selaku kader NasDem, Muttaqin Siddiq menaruh simpati kepada Tina Nur Alam karena sedang perjuangkan hak konstitusinya di MK sebagai upaya terhormat kendatipun misalnya kondisi terburuk pasangan Tina – Ihsan hasilnya tidak sesuai espektasi.
“Langkah terhormat ibu Tina ke MK, justru mereka anggap malu, tapi kader yang terhendus dugaan korupsi tampak dibela mati – matian. Ini kan menandakan terbalik – balik logika berpikirnya,” tandas Sumardin.



















