Kendari, Sultrust.com – Mengawali tahun 2026, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menghadapi tantangan stabilitas harga yang cukup kontras dengan tren nasional.
Saat indeks harga konsumen secara nasional mencatatkan deflasi sebesar 0,15% (month-to-month), Sultra justru mengalami inflasi sebesar 0,69%. Pergerakan ini dipengaruhi oleh kombinasi tekanan harga global dan faktor cuaca musiman yang berdampak pada komoditas pangan.
Emas perhiasan muncul sebagai salah satu penyumbang inflasi utama di Sultra. Fenomena ini merupakan dampak langsung dari ketidakpastian geopolitik global yang mendorong harga emas dunia terus merangkak naik, seiring dengan kecenderungan investor dan masyarakat beralih ke aset safe haven.
Di sisi lain, dari meja makan masyarakat, komoditas perikanan seperti ikan cakalang, lajang, kembung, dan selar turut mengalami lonjakan harga. Kenaikan harga ikan tersebut berkaitan erat dengan kondisi alam.
Pada Januari 2026, frekuensi nelayan melaut menurun drastis akibat cuaca buruk dan ketinggian gelombang laut yang mencapai lebih dari 1,5 meter.
Untuk memitigasi dampak ini agar tidak berlanjut hingga masa Ramadan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mulai mengakselerasi Gerakan Pangan Murah (GPM) dan memperkuat peran Kios Pangan di delapan kabupaten/kota.
Langkah kolektif ini bertujuan memastikan bahwa distribusi pangan tetap terjaga meski menghadapi kendala cuaca. (*)



















