DPRD Provinsi Sultra soroti management PT. Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT. Obsidian Stainless Steel (OSS) yang terkesan tak transparan. Terutama persoalan status kontrak kerja dan pola rekruitment karyawan.
Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sultra, Laode Frebi Rifai mengatakan, bahwa sejak awal perusahaan asing asal Tiongkok itu tak pernah menunjukan transparansinya, sehingga selalu menimbulkan konflik di kawasan mega industri itu.
Menurut politisi PDI Perjuangan ini, aksi demonstrasi buruh di Morosi yang berujung ricuh dan pembakaran dumpt truck serta alat berat itu, menunjukan ada yang salah di dalam management perusahaan tersebut.
“Ya, kalau kita lihat, dengan adanya aksi kemarin, berarti memang ada yang salah di sana (PT. VDNI). Sejak awal, perusahaan ini kan tidak pernah transparan,” ujar Laode Frebi Rifai, Selasa (15/12).
Lebih lanjut, dia menjelaskan, aksi buruh yang berakhir ricuh bisa saja dipicu karena provokasi dari beberapa karyawan. Namun, karena atas solidaritas sesama tenaga kerja lokal, sehingga terbangunlah gerakan seperti yang terjadi kemarin.
“Bisa saja aksi kemarin itu hanya permasalahan 12 pegawai atau berapa orang pegawai, tapi itu akan memicu karyawan-karyawan yang lain, karena itu soalnya di solidaritas, apalagi sama-sama tenaga kerja lokal,” jelasnya.
Untuk itu, Frebi meminta management PT. VDNI dan PT. OSS agar lebih terbuka, khususnya soal kepastian hak karyawan hingga rekruitmen karyawan. (p2/ik)



















