Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
News

PT WIN Ulangi Aktivitas Tambang Dekat Pemukiman, Warga Torobulu Kembali Resah

462
×

PT WIN Ulangi Aktivitas Tambang Dekat Pemukiman, Warga Torobulu Kembali Resah

Share this article
Tambang PT WIN yang berjarak hanya ratusan meter dari sekolah dan mesjid warga Torobulu di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Foto : ist
Example 468x60

Konsel, Sultrust.com – Suasana di Desa Torobulu, Kabupaten Konawe Selatan, kembali memanas setelah PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) mencoba melanjutkan aktivitas tambang di kawasan yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah warga, sekolah, hingga masjid.

Sejumlah warga mengaku resah. Suara bising alat berat sejak pagi dianggap mengganggu rutinitas mereka. Hal ini di ungkapan oleh Harjun, warga setempat, ia menceritakan bahwa kebisingan itu mulai ia rasakan saat tengah mempersiapkan khutbah Jumat.

Example 300x600

“Saya sementara membersihkan masjid persiapan salat Jumat, tapi terdengar suara alat berat. Setelah saya telusuri ternyata lokasinya tidak jauh dari rumah. Padahal sebentar saya mau khutbah, akhirnya risau lagi perasaan saya. Kasian warga di sini,” kata Harjun.

Ketegangan meningkat ketika warga berhadapan langsung dengan pengawas tambang. Mereka menuntut pertemuan darurat di balai desa, dengan melibatkan kepala desa, pemilik lahan, hingga masyarakat yang menolak tambang. Penolakan itu disebut bukan sekadar urusan pribadi, melainkan soal moral.

“Saya melibatkan diri dalam perjuangan menjaga lingkungan karena perintah agama. Kalau kita melihat orang terdzalimi, kita bantu. Semoga kita bisa tergolong orang-orang yang bermanfaat,” ujar Harjun.

Bagi warga sekitar tambang, aktivitas PT WIN mengingatkan pada kejadian 2019. Saat itu perusahaan pernah menambang hingga mendekati permukiman dan sekolah. Setelah dilakukan reklamasi dengan penanaman pohon, lahan yang sama kini kembali dibuka.

Alimuddin (65), warga lainnya, menyebut trauma lama kembali terulang. Ia menilai tambang dekat permukiman berisiko besar terhadap kesehatan dan keselamatan anak-anak.

“Saya senang ada tambang, tapi jangan sampai meresahkan masyarakat. Debunya itu yang saya khawatirkan. Kalau orang dewasa bisa pakai masker, tapi anak-anak kasihan. Seandainya rumahmu diganti rumahku, barulah kamu bisa rasakan apa yang saya alami sejak dulu,” ucapnya.

Selain debu, Alimuddin juga menyoroti risiko hilangnya sumber air bersih.

“Di masjid dan rumah anak saya ada sumur bor yang dipakai banyak warga. Kalau tambang dekat pemukiman menggali lebih dalam, nanti air bisa hilang,” katanya.

Dalam pertemuan warga dan pemerintah desa, terungkap bahwa aktivitas tambang berawal dari permintaan sebagian warga agar dibuatkan tanggul atau drainase di belakang rumah mereka. Perusahaan menyanggupi, namun dengan syarat bisa melakukan penambangan terlebih dahulu.

Kesepakatan itu ternyata tidak disosialisasikan ke warga yang rumahnya berada paling dekat dengan lokasi tambang. Akibatnya konflik pun mencuat lagi.

Kepala Desa Torobulu, Nilham, yang hadir dalam pertemuan tersebut mengakui belum ada jalan keluar.

“Kami menolak aktivitas tambang dekat pemukiman karena sudah terbukti merugikan warga sejak dulu. Jangan sampai pengalaman 2019 terulang lagi,” ujarnya. (*)

Example 300250
Example 120x600