Kendari, Sultrust.com – Menghadapi temuan 397 lembar uang palsu yang beredar di Sulawesi Tenggara sepanjang tahun 2025, Bank Indonesia (BI) Sultra kini mengalihkan fokus utama pada penguatan benteng pertahanan masyarakat melalui edukasi.
Langkah ini diambil agar warga tidak hanya menjadi korban, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam mendeteksi keaslian rupiah.
Edukasi yang dilakukan BI Sultra kini menyasar lini paling bawah dalam ekosistem ekonomi, yakni para pelaku UMKM dan warung-warung kecil yang sering menjadi sasaran empuk. Bank Indonesia percaya bahwa senjata terbaik melawan uang palsu bukanlah kecanggihan alat, melainkan pemahaman masyarakat itu sendiri.
Melalui program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, BI gencar mengajak masyarakat untuk lebih teliti saat menerima uang tunai, terutama pada saat transaksi berlangsung cepat di hari besar keagamaan.
“Upaya kami dibagi menjadi dua, penindakan dan pencegahan. Untuk pencegahan, masyarakat kami edukasi agar mampu mengenali uang asli dengan metode 3D: Dilihat, Diraba, dan Diterawang,” jelas Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Thathit Suryono saat dikonfirmasi, Rabu (21/1/2026).
Dalam setiap sosialisasi yang menyasar pelajar, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga, BI menekankan kembali rumus sederhana namun efektif, yaitu 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang).
Dilihah untuk emperhatikan perubahan warna dan benang pengaman, diraba untuk merasakan tekstur kasar pada bagian tertentu di uang asli, dan diterawang untuk mencari gambar tanda air (watermark) dan gambar saling isi yang presisi.
Metode ini terus dipopulerkan untuk menekan dominasi peredaran uang palsu pecahan Rp100.000 yang kerap ditemukan di kota-kota besar seperti Kendari dan Baubau.
“Secara umum trennya menurun, namun peredaran paling banyak masih ditemukan di Kota Kendari dan Kota Baubau,” tambah Thathit.
Meskipun koordinasi dengan aparat penegak hukum tetap berjalan, BI Sultra optimis bahwa keberhasilan menekan angka peredaran uang palsu sangat bergantung pada tingkat literasi warga. Dengan masyarakat yang semakin cerdas dan waspada, ruang gerak oknum pengedar uang palsu di Sulawesi Tenggara dipastikan akan semakin sempit.
Melalui edukasi yang masif dan berkelanjutan, Bank Indonesia berharap seluruh lapisan masyarakat mampu mendeteksi uang palsu secara mandiri, sehingga kerugian material di tingkat konsumen dapat dihindari sepenuhnya. (*)



















